Himbauan untuk para goweser

16 04 2011

Dari hasil browsing di forum http://www.sepedaku.com, ada postingan yang menurut saya bagus & penting untuk dibaca dan diterapkan oleh kita para goweser. Postingan dari bung Alwin ini tentang perlunya kita, goweser, untuk selalu berperilaku positif & terpuji ditengah masyarakat. Toh demi kebaikan kita semua juga.

Berikut postingan bung Alwin, semoga bermanfaat:

Exclamation Introspeksi dirilah kita para goweser!

Om dan Tante sekalian,

Mohon maaf sebelumnya andaikan judul, topik, maupun bahasan saya di bawah menyinggung teman2 sekalian. Tapi saya merasa perlu untuk menyuarakan opini saya di forum sepeda terbesar ini untuk kemajuan goweser bersama.

Belakangan ini saya merasakan ada suatu peningkatan citra negatif tentang sepeda dari masyarakat umum. Dari seringnya kejadian pencurian sepeda, kecelakaan yang melibatkan pesepeda, insiden-insiden kecil lain seperti penembakan dengan airsoft-gun, peludahan, caci maki, dll. Terlepas dari kondisi dan situasi dari masing-masing kejadian yang sepertinya tidak saling terkait ini, marilah kita coba mendalami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Mari kita mulai dari maraknya pencurian sepeda. Tidak dapat dipungkiri bahwa sepeda sedang menjadi suatu trend di masyarakat. Dari sepeda gunung, sepeda lipat, hingga kini fixie. Terlepas dari efek positif dari kegiatan ini (yang mana saya tidak bahas di sini), mari kita juga melihat efek negatif yang ditimbulkan. Seluruh publisitas mengenai sepeda juga akhirnya membuat masyarakat awam paham bahwa ada sepeda-sepeda dengan harga puluhan juta rupiah, bahkan hingga nyaris mencapai 100jt rupiah. Harga yang bagi kebanyakan masyarakat Indonesia merupakan suatu harga yang amat fantastis apalagi untuk sebuah sepeda. Maka mulai terjadi pergeseran kriminalitas, dimana para maling tersebut melihat betapa mudahnya, mencuri dan menjual sepeda dibandingkan motor, dan betapa lebih menguntungkan apabila ia berhasil mencuri sebuah sepeda seharga 20jt, yang bisa ia jual kembali dengan harga 10jt, dibanding dengan sepeda motor dengan harga sama, tetapi harga jual kembali ke penadah sangat murah, karena terdapat registrasi kendaraan bermotor, dll. Bagi para maling, mencuri sepeda itu semudah menggunting kawat, lalu tinggal digowes atau ditarik pakai motor, dan selesai sudah… bandingkan dengan mencuri motor, dimana si maling harus mendorong motor ke tempat persembunyian dengan resiko diteriaki maling dan digebuki warga sepanjang jalan ia mendorong motor… di sisi lain, walaupun maling cepat menyambar potensi ‘bisnis’ yang ia bisa dapatkan, pihak berwajib (polisi, satpam, dll) sangat lambat menyadari betapa sepeda sekarang ini banyak sekali yang memiliki harga lebih mahal dari motor, dan seyogyanya mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan motor atau mobil atau yang lain. Sekarang ini, masih banyak pihak berwajib yang memandang sebelah mata saat dilaporkan kehilangan sepeda. kedua mata baru membelalak saat kita menyebutkan harga sepeda yang puluhan juta rupiah atau lebih. Tapi begitupun, sangat sulit untuk mencari sepeda yang hilang ini, karena nomor registrasi tidak dicatat dan tidak ada sistem registrasi kendaraan sepeda di kepolisian, sehingga mempersulit pencarian dan pembuktian kepemilikan sepeda.

Apa yang bisa kita lakukan? Mulailah dari diri kita sendiri. Mulailah dengan rendah hati terhadap masyarakat umum. Tidak usahlah sesumbar mengenai berapa harga sepeda kita. Kita semua tentu punya jurus mengelak dari pertanyaan polos warga yang penasaran harga sepeda kita kan? Toh para pesepeda akan menilai kita dari kemampuan kita gowes ketimbang harga sepeda yang kita pajang di rumah. Mulailah dari pemikiran bahwa kita upgret sepeda karena ‘skill’ kita sudah meningkat dan membutuhkan sepeda yang lebih mampu menemani kita melibas medan berat atau membuat kita lebih cepat lagi. Coba kita bayangkan betapa malunya kita saat mengendarai sepeda gunung untuk DH (Downhill) yang harganya 50juta rupiah, tetapi terjatuh karena jalanan aspal di depan kompleks banyak pasir dan licin atau harus TTB saat ingin mendaki jalan layang untuk sampai ke tempat kongkow..

Hal kedua adalah kecelakaan dan insiden kecil yang terjadi melibatkan sepeda. Terlepas dari penyebab terjadinya masing-masing insiden dan kecelakaan, saya merasa ada benang merah yang dapat ditarik dari kedua hal ini. Yaitu kurang disiplinnya pesepeda mengikuti peraturan lalu lintas. Saya yakin akan ada banyak sanggahan/argumen/pendapat/dll yang mencaci saya, karena sebenarnya banyak pesepeda korban kecelakaan lalin yang berada di posisi yang benar. Masalahnya tidak semuanya demikian. Saya pernah memposting di sepedaku.com ini menegur beberapa penggowes (yang tidak saya kenali) karena menerobos lampu merah di perempatan jalan hang tuah. Maka sekarang saya ingatkan kembali, tindakan beberapa orang dari kita, yang suka menerobos lampu merah, memotong atau menyalip tiba2 pejalan kaki, motor, dan mobil (ingat sepeda itu tidak ada bunyinya, dan bel ting ting anda itu kalah kencang dengan bunyi knalpot motor), naik ke trotoar jalan, menggowes berlawana arah, ngebut di kompleks perumahan, dll. Tindakan-tindakan kita yang tidak mengindahkan peraturan lalu lintas dan tidak menghormati lingkungan sekitar itulah yang membuat suatu citra negatif di masyarakat terhadap para pesepeda pada umumnya. Kita semua mungkin berargumen bahwa cuma sekali ini saja kok saya melawan arah, saya jarang sekali melakukan ini. Tetapi apakah kita semua sadar, bahwa saat melakukan itu ada berapa pasang mata yang melihat kita? Dan berapa pasang mata yang melihat penggowes lain di tempat dan di waktu yang berbeda melakukan hal yang sama juga? Anda mungkin hanya sekali ini melakukannya, tetapi saat ditambah dengan saya, dia, mereka, dan kita semua… maka jumlahnya menjadi banyak, dan lebih banyak lagi pasang mata yang melihat kita semua… Dari sanalah mulai terbentuk kesan negatif dan arogan pesepeda, yang seenaknya meluncur menerobos lampu merah saat pengendara lain mengantri… Kita boleh bilang saya kan bersepeda, dan lampu merahnya lama, dan jalanan lagi kosong… tapi coba bayangkan kita mengendarai mobil, dan tiba2 ada motor nyelonong nerobos lampu merah… kira2 apa yang kita pikirkan?

Dari kesan-kesan negatif yang terbentuk di masyarakat, harga sepeda (yang publisitasnya) mencapai puluhan juta rupiah (walaupun banyak dari kita pakai sepeda apa adanya), maka mulailah muncul suatu kesadaran menentang pesepeda, apalagi manakala muncul wacana tentang jalur sepeda yang menambah perlakuan istimewa bagi pesepeda (saya tidak akan membahas pro-kontranya, karena semua argumen adalah valid dan punya basis sendiri) maka tidak heran kalau masyarakat umum (yang bukan pesepeda) merasa pesepeda itu sudah seenaknya di jalan, sok eksklusif lagi. maka muncul lah insiden-insiden kecil secara sporadis dari anggota perseorangan masyarakat yang berani (dan cukup kurang ajar) untuk bertindak, semacam penembakan dengan airsoft gun, meludahi pesepeda (ini saya alami sendiri), meneriaki dan mencaci pesepeda, ada yang menendang pesepeda hingga jatuh, dan banyak contoh lainnya di forum kita ini.

Terlepas dari pemicu langsung insiden-insiden di atas, marilah kita berintrospeksi diri dan melihat pemicu tidak langsung kejadian di atas yang berasal dari diri kita sendiri. Dan marilah kita berkonsentrasi untuk memperbaiki apa yang bisa kita kerjakan. Mulailah dengan selalu mengingat tulisan ini saat hendak menerobos lampu merah. Mulailah dengan mengingat trotoar adalah hak pejalan kaki. Mulailah dengan mengingat sepeda kita itu tidak bersuara, dan bel kita itu kalah nyaring dengan knalpot motor. Marilah kita bersikap santun di jalan. Bersabarlah menunggu lampu merah seperti juga semua pengguna jalan lain (kecuali motor mungkin). Sapalah dan ucapkan permisi kepada pejalan kaki yang ingin kita salip/potong jalannya, jangan kagetkan ia. Ini hanya sedikit contoh-contoh yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan.

Jika kita ingin perlakuan spesial dari anggota masyarakat lain, mulailah dengan memperlakukan anggota masyarakat lain secara spesial, bukan dengan berlaku seolah-olah kita ini spesial. Dengan begitu masyarakat yang merasa pesepeda itu adalah pribadi santun, terpelajar, dan baik budi akan serta merta memperlakukan pesepeda secara spesial. Tentu saja jangan berharap besok bisa tercapai kondisi seperti ini. Mulailah dari sekarang dan bersama-sama kita akan menuju ke sana.

Ingatlah selalu: Hormatilah orang lain, maka mereka akan menghormatimu juga.

Happy gowes epribadi!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: